KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia Nya kepada
kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan tema Pengertian dan
Kesatuan Aqidah sebagai tugas mata kuliah aqidah akhlah. Sholawat serta salam
kami limpahkan kejunjungan nabi besar Muhammad SAW. Ucapan terima kasih tak
lupa kami ucapkan kepada semua pihak
yang telah memberikan masukan ataupun informasi dalam proses pembuatan
makalah ini. Sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan tentunya
makalah yang kami buat ini jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik
dan sarannya sangat kami harapkan untuk menyempurnakan makalah yang kami susun
selanjutnya. Semoga makalah ini bisa menjadi media untuk menambah wawasan
pembaca , terutama kami sebagai penyusun makalah ini. Amin ya rabbal alamin.
Daftar Isi
KATA
PENGANTAR………………………………………………………………. i
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah……………………………………………………... 2
B. Identifkasi
Masalah ………………………………………………………….. 3
C. Tujuan
Makalah ……………………………………………………………... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Agama
Islam
§
Pengertian Agama Islam
………………………………………………....... 4
§
Aspek-Aspek Agama
……………………………………………………… 4
B.
Aqidah
§ Pengertian
Aqidah …………………………………………………………… 7
§ Fungsi
dan Peranan Aqidah ………………………………………………... 10
§ Tingkatan
Aqidah …………………………………………………………... 12
§ Ruang
Lingkup Aqidah …………………………………………………….. 14
C.
Kesatuan Aqidah
§ Pentingnya
Kesatuan Aqidah …………………………………….………… 17
§ Sebab
Aqidah Itu Satu dan Kekal ………………………………………….. 18
D. Jalan
Yang Ditempuh Para Rasul Dalam Menanamkan Aqidah ………....... 24
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
………………………………………………….….………….. 26
B. Daftar
Pustaka …………………………………………………..………….. 27
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Aqidah adalah pokok-pokok keimanan yang
telah ditetapkan oleh Allah, dan kita sebagai manusia wajib meyakininya sehingga
kita layak disebut sebagai orang yang beriman (mu’min).
Namun bukan berarti bahwa keimanan itu
ditanamkan dalam diri seseorang secara toleran tanpa ada kritik sama sekali,
sebab proses keimanan harus disertai dalil-dalil aqli. Akan tetapi, karena akal
manusia terbatas maka tidak semua hal yang harus diimani dapat diindra dan
dijangkau oleh akal manusia
Para ulama sepakat bahwa dalil-dalil aqli
yang haq dapat menghasilkan keyakinan dan keimanan yang kokoh. Sedangkan
dalil-dalil naqli yang dapat memberikan keimanan yang diharapkan hanyalah
dalil-dalil yang qath’i.
Makalah sederhana ini semoga dapat
memberikan ilmu pengetahuan atau dapat dijadikan sumber pembelajaran bagi kita
semua.
B.
Identifikasi
Masalah
a. Apa
yang dimaksud dengan agama islam ?
b. Apa
yang dimaksud dengan aqidah ?
c. Fungsi
dan peranan aqidah ?
d. Apa
saja tingkatan aqidah ?
e. Apa
pentingnya kesatuan aqidah?
f.
Apa saja faktor yang
membuat aqidah satu dan kekal ?
g. Bagaimana
jalan yang ditempuh para rasul dalam menanamkan akidah?
C.
Tujuan
Makalah
a. Mengetahui
pengertian agama.
b. Mengetahui
arti dan pengertian dari aqidah.
c. Mengetahui
fungsi serta peranan aqidah
d. Mengetahui
tingkatan pada aqidah
e. Memahami
pentingnya kesatuan aqidah
f.
Memahami faktor-faktor
yang membuat aqidah satu dan kekal
g. Mengetahui
seperti apa jalan yang ditempuh para rasul dalam menanamkan aqidah
BAB
II
PEMBAHASAN
I.
Agama Islam
A.
Pengertian
Agama Islam
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur
tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang
Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya.
Agama berasal dari bahasa
sansekerta, akar kata agama adalah gam
yang mendapat awalan a dan akhiran a sehingga menjadi a-gam-a. Agama artinya
peraturan, tata cara, upacara hubungan manusia dengan Tuhan.
Secara etimologi islam
berasal dari bahasa Arab, terambil dari kosakata salima yang berarti selamat sentosa. Kemudian dibentuk menjadi kata
aslama yang berarti memelihara dalam
keadaan selamat sentosa, yang berarti berserah diri, patuh, tunduk dan taat.
Dari kata aslama dibentuk kata islam (aslam yuslimu islaman), yang mengandung
arti selamat, aman, damai, patuh, berserah diri, dan taat. Orang yang masuk
islam di namakan muslim, yaitu orang yang menyatakan dirinya telah taat,
meyerahkan diri, dan patuh kepada Allah.
Sedangkan yang dimaksud
dengan Islam adalah akan dibahas dibawah ini, islam menurut para ahli adalah :
Menurut Mahmud Syaltout, islam adalah:
“islam adalah agama Allah
yang di wasiatkan oleh ajaran-ajarannya sebagaimana terdapat di dalam
pokok-pokok dan syariatnya kepda nabi muhammmad SAW dan mewajibkan kepadanya
untuk menyampaikannya kepada seluruh umat manusia serta mengajak mereka untuk
memeluknya.
Menurut Maulana Muhammad Ali :
“islam adalah agama yang
sebenarnya bagi seluruh umat manusia. Para nabi adalah yang mengajarkan agama
islam dikalangan berbagai bangsa dan berbagai zaman, dan nabi Muhammad SAW
adalah nabi agama itu yang terakhir dan paling sempurna.”
Menurut Harun Nasution
“islam adalah agama yang
ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi
Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang
bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan
manusia.”
Jadi kesimpulan mengenai
Agama Islam adalah suatu ajaran tata cara yang diturunkan Allah SWT. kepada
Nabi Muhammad SAW yang disiarkan dengan dakwah ke seluruh penjuru dunia,
memberikan pertanda bahwa Islam diperuntukan bagi semua manusia yang ada dimuka
bumi ini.
B.
Aspek-Aspek
Agama
Di dalam Agama Islam ada tiga aspek atau
tiga bagian terpenting yang terkait antara satu sama lainnya. Baik secara
langsung maupun secara tidak langsung. Secara tersurat maupun yang tersirat.
Secara sadar maupun tidak sadar. Diantaranya adalah
·
Aqidah
·
Syariat
·
Akhlak
Siapa saja yang ingin beragama Islam atau siapa saja yang ingin
melaksanakan ajaran Islam di dalam kehidupan, wajib mempelajari ketiga aspek
atau bagian yang ada di dalam ajaran Islam ini. Wajib dipelajari ilmunya,
diyakini, dihayati, dan juga diamalkan.
Kalau satu aspek saja kita terima dan pelajari tetapi meninggalkan
aspek-aspek yang lain, ia sangat cacat dan timpang. Katakalah kita pelajari
aqidahnya saja serta diyakini dengan meninggalkan aspek-aspek yang lain,
seolah-olah islam itu agama ketuhanan dan Tuhan tidak mempunyai peraturan dan
peranan. Kalau syariatnya saja yang kita terima dan menolak pula aspek-aspek
yang lain, Islam itu sudah seolah-seolah Islam seperti ajaran ideologi.
Manakala kalau akhlaknya saja diterima dengan meninggalkan aspek-aspek yang dua
lagi, seolah-olah Islam itu hanya ajaran etika di dalam pergaulan atau etika kerja.
II. Aqidah
A.
Pengertian
Aqidah
Aqidah berasal dari kata
“aqada – ya’qidu – aqdan” yang
berarti “mengikatkan atau mempercayai/meyakini” jadi “aqidah” berarti ikatan,
kepercayaan atau keyakinan. Sedangkan pengertian aqidah dalam agama maksudnya
adalah berkaitan dengan keyakinan, bukan perbuatan. Misalnya keyakinan adanya
Allah dan diutusnya nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
Secara fithri manusia
terikat ke luar dirinya, ia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup
menyendiri, ia harus berkomunikasi dengan luar dirinya. Diantara ikatan yang
harus melandasi komunikasi ini adalah bahwa ia harus mempunyai rasa percaya
terhadap pihak lainnya. Tanpa adanya rasa percaya manusia takkan mampu atau
berani melakukan apapun.
Kepercayaan bagi manusia
adalah sesuatu yang sangat essensial, karena dari situlah lahirnya ketentraman,
optimis, dan semangat hidup. Tidak mungkin seseorang dapat bekerja, jika tidak
ada kepercayaan pada dirinya bhawa pekerjaan itu dapat membawanya kepada tujuan
dan ingin mencapainya.
Kepercayaan adalah
anggapan bahwa sesuatu itu benar atau sesuatu yang diakui kebenarannya. Sesuatu
yang dianggap benar itu dapat diperoleh melalui 3 institusi kebenaran, yaitu
melalui ilmu pengetahuan, filsafat dan agama.
Ilmu pengetahuan
merupakan pengetahuan yg berasal dari pengamatan dan pengalaman empirik yang
disusun secara sistematik untuk mengetahui prinsip-prinsip tentang sesuatu yang
dipelajari. Ilmu adalah proses akal untuk memahami kenyataan dan hukum-hukum
yang berlaku dalam alam semesta. Kebenaran ilmu penegtahuan bersifat nisbi,
yaitu sepanjang bisa dibuktikan secara ilmiah dan ini sangat tergantung kepada
metode yang digunakannya.
Filsafat mencoba
memberikan gambaran tentang kebenaran. Dalam mencari kebenaran, filsafat
berpegang kepada landasan dan pandangan dasar yang digunakannya, yang masing
masing ahli filsafat memiliki pandangan sendiri-sendiri. Mencari kebenaran
filsafat sangat tergantung kepada para penganjurnya. Oleh karena itu
kebenarannya bersifat nisbi pula.
Suatu kepercayaan yang merupakan
implikasi dari kebenaran yang tinggi adalah agama. Dan aqidah merupakan
dasar-dasar kepercayaan dalam agamayang mengikat seseorang dengan
persoalan-persoalan yang prinsipil dari agama itu. Islam mengikat kepercayaan
umatnya dengan tauhid, yaitu keyakinan bahwa Allah itu Esa. Tauhid merupakan
aqidah islam yang menopang seluruh bangunan ke-Islaman seseorang. Keyakinan
mendorong seseorang untuk konsisten dan berpegang teguh, bahkan sanggup
menyerahkan segenap hidupnya bagi keyakinannya itu.
Aqidah di berikan oleh
allah setelah rusaknya hati umat manusia dan tersesatnya kepercayaan yang
mereka miliki juga runtuhnya semua akhlaq dan peri kemanusian. Di saat itu
pasti nyata sekali kebutuhan manusia kepada suatu kekuasaan yang ampuh yang
dapat mengembalikan meeka kepada fitrah asli mereka yang bener dan sejahtera.
Bimbingan semacam itu mutlak di perluka oleh umat, agar secara langsung dapat
lah manusia itu meneruskan perbaikan kemakmuran bumi dan agar kuat pula untuk
membawa amanat kehidupan di alam semesta ini
Aqidah ini merupakan ruh
bagi setiap orang dengan berpegang teguh kepadanya itu ia akan hidup dalam
keadaaan yang baik dan memgembirakan,tetapi dengan meinggalkannya itu akan
matilah semangat kerohanian manusia ia adalah bagaikan cahaya yang apabila
seseorang itu buta dari padanya, maka pastilah ia akan terseset dalam liku-liku
kehidupannya, malahan tidak mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam
lembah-lembah kesesatan yang amat dalam sekali.
Selain itu ada juga pengertian aqidah menurut para ahli yakni sebagai
berikut :
1. Menurut Hassan Al-Banna
“Aqidah
adalah beberapa perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh hatimu,
mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur
sedikitpun dengan keragu-raguan”.
2.
Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy
“Aqidah
adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia
berdasarkan akal, wahyu dan fithrah. (Kebenaran) itu dipatrikan oleh manusia di
dalam hati serta diyakini kesahihan dan kebenarannya secara pasti dan ditolak
segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu”.
B.
Fungsi
dan Peranan Aqidah
Aqidah
tauhid sebagai kebenaran merupakan landasan keyakinan bagi seorang muslim.
Keyakinan yang mendasar itu menopang seluruh prilaku, membentuk dan memberi
corak dan warna kehidupannya dalam hubungannya dengan mahkluk lain dan hubungan
dengan Tuhan.
Dalam
hubungan dengan Tuhan, aqidah memberi kejelasan tentang tuhan yang disembahnya
sebagai dzat Yang Maha Kuasa; satu-satunya Dzat yang wajib disembah yang di Tangan-Nya
nasib seluruh mahkluk ditentukan.
Dzat
dan Sifat Tuhan yang diinformasikan oleh Tuhan sebdiri yang terangkum dalam
aqidah tauhid, menjadikan seorang muslim yakin akan kebenarannya. Keyakinan itu
akan memberikan ketenangan dan ketentraman dalam pengabdiannya dan penyerahan
dirinya secara utuh kepada Dzat Yang Maha Besar itu.
Dalam
hubungan dengan manusia. Keyakinan tauhid ini menjadi dorongan utama untuk
bergaul dan berbuat baik serta berbuat maslahat bagi manusia dan mahkluk
lainnya. Dorongan keyakinan ini akan sanggup meniadakan segala pamrih duniawi
dan balas jasa dari baikan yang ditanankan terhadap manusia lain.
Aqidah
yang tertanam dalam jiwa seorang muslim akan senantiasa menghadirkan dirinya
dalam pengawasan Allah semata-mata, karena itu perilaku-perilaku yang tidak
dikehendaki Allah akan selalu dihindarkannya. Sabda nabi : “Beribadahlah engkau
kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya apabila engkau tidak melihat-Nya,
Allah melihat engkau.”
Aqidah
dapat dilihat peranannya dalam berbagai segi kehidupan seorang muslim serta
memiliki implikasi terhadap sikap hidupnya. Implikasi dari aqidah itu antara
lain dapat dilihat dalam pembentukan sikap, misalnya :
1. Penyerahan
secara total kepada Allah dengan meniadakan sama sekali kekuatan dan kekuasaan
diluar Allah yang dapat mendominasi dirinya.
2. Keyakinan terhadap Allah, menjadikan orang
memiliki keberanian untuk berbuat, karena tidak ada baginya yang ditakuti
selain melanggar perintah Allah. Keberanian ini menjadikan seorang muslim untuk
berbicara tentang kebenaran secara lurus dan konsekuan dan tegas berdasarkan
aturan aturan yang jelas diperintah Allah.
3. Keyakinan
dapat membentuk rasa optimis menjalani kehidupan, karena keyakinan tauhid
menjadikan hasil yang terbaik yang akan dicapainnya secara ruhaniah, karena itu
seorang muslim tidak pernah gelisah dan putus asa, ia tetap berkiprah dengan
penuh semangat dan optimisme.
Dengan demikian aqidah dapat berperan sebagai landasan etik bagi seorang
muslim dalam kehidupannya didunia dengan melihat hidup secara luas, yaitu hidup
di dunia dan akhirat.
Sayyid Sabiq memandang fungsi aqidah sebagai ruh bagi setaiap orang.
Hidup bernaung dan berpegang teguh kepadanya akan memperoleh gairah, semangat
dan kebahagian, sementara hidup yang terlepas dari padanya akan terapung,
melayang tanpa arah dan bahkan mati semangat kerohaniannya. Aqidah adalah
cahay, yang apabila seorang tidak memilikinya, ia akan buta dan pasti akan
tersesat kedalam liku liku dan lembah kesesatan dan kenistaan. Pada kenyataan
dan pengaktualisasiannya aqidah, syariah, dan akhlak atau dengan kata lain iman
dan amal, harus menyatu, tidak ada jarak antara keduanya.
C.
Tingkatan
Aqidah
Ditinjau dari segi kuat dan tidaknya,
aqidah ini bisa dibagi menjadi empat tingkatkan, yaitu :
1. Ragu,
2. Yakin,
3. Ainul
yakin, dan
4. Haqqul
yakin.
Tingkatkan-tingkatan ini terutama
didasarkan atas sedikit banyak atau besar kecilnya potensi dan kemampuan
manusia yang dikembangkan dalam menyerap aqidah tersebut. Semakin sederhana
potensi yang dikembakan akan semakin rendah aqidah yang dimiliki, dan
sebaliknya. Empat tingkatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
·
Tingkat ragu (Taklif),
yakni orang yang beraqidah hanya karena ikut ikutan saja, tidak mempunyai
pendirian sendiri.
·
Tingkat yakin, yakni
orang yang beraqidah atau sesuatu dan mampu menunjukan bukti, alasan, atau
dalilnya, tapi belum mampu menemukan dengan data atau bukti (dalil) yang
didapatnya. Sehingga tingkat ini masih mungkin terkecoh dengan sanggahan
sanggahan yang bersifat rasional dan mendalam.
·
Tingkat a’inul yakin,
orang yang beraqidah atau meyakini sesuatu secara rasional, ilmiah dan mendalam
ia mampu membuktikan hubungan antara objek (madlul) dengan data atau bukti
(dalil). Tingkat ini tidak akan terkecoh lagi dengan sanggahan sanggahn yang
bersifat rasional dan ilmiah.
·
Tingkat haqqul yakin,
yakni orang beraqidah atau meyakini sesuatu yang disamping mampu membuktikan
hubungan antara objek (madlul) dengan bukti atau fakta (dalil) secara rasional,
ilmiah dan mendalam, juga mampu menemukan dan merasakannya melalui
pengalaman-pengalamannya dalam pengamalan ajaran agama.
D. Ruang Lingkup Aqidah
Secara sederhana sistematika agama islam
dapat dijelaskan sebagai berikut kalau orang telah menerima tauhid sebagai
prima causa yakni asal yang pertama, asal dari segala-galanya dalam keyakinan
islam, maka rukun iman yang lain hanyalah akibat logis (masuk akal) saja
penerimaan tauhid tersebut. Dari uraian singkat tersebut kita harus mengerti
apa saja sistematisnya pokok-pokok keyakinan islam yang terangkum dalam rukun
iman.
1. Keyakinan
kepada Allah
Allah,
Zat yang maha mutlak itu, menurut ajaran islam, adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Menurut aqidah islam, konsepsi tetang Ketuhanan Yang Maha Esa disebut Tauhid
2. Keyakinan
kepada para Malaikat
Malaikat
adalah mahkluk Gaib, tidak dapat ditangkap oleh pancaindra manusia akan tetapi,
dengan izin Allah, malaikat dapat menjelmakan dirinya seperti manusia, seperti
malaikat Jibril menjadi manusia dihadapan Maryam, ibu Isa Almasih. Mereka
diciptakan Tuhan dari cahaya dengan sifat atau pembawaan antaralain selalu taat
dan patuh kepada Allah, senantiasa membenarkan dan melaksanakan perintah Allah.
Para malaikat mempunyai tugas tertentu seperti menyampaikan wahyu Allah kepada
manusia melalui para rasulnya, mengukuhkan hati orang-orang yang beriman
memberikan pertolongan kepada manusia, membantu perkembangan rohani manusia,
mendorong manusia untuk berbuat baik, mencatat perbuatan manusia, dan
melaksanakan hukuman Allah.
3. Keyakinan
kepada kitab-kitab suci
Kitab-kitab
suci memuat wahyu Allah. Perkataan kitab yang berasal dari kata kerja Kataba
artinya ia telah menulis. Memuat wahyu Allah. Perkataan wahyu berasal dari
bahasa Arab al-wahy. Kata ini mengandung makna suara,bisikan, isyarat, tulisan
dan kitab. Dalam pengertian yang umum wahyu adalah firman Allah yang
disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul-Nya. Al-quran menyebut beberapa
kitab suci misalnya Zabur yang diturunkan melalui nabi Daud, Taurat melalui
nabi Musa, Injil melalui Nabi Isa dan Al-quran melalui nabi Muhammad sebagai
Rasul-Nya.
4. Keyakinan
pada para nabi dan rasul
Para
nabi menerima tuntan berupa wahyu, akan tetapi tidak mempunyai kewajiban menyampaikan
wahyu itu kepada umat manusia. Rosul adalah utusan Tuhan yang berkewajiban
menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada umat manusia.
5. Keyakinan
pada hari kiamat dan pertanggung jawaban manusia di akhirat.
Keyakinan
ini sangat penting dalam rangkaian satuan rukun iman lainnya, sebab tanpa
mempercayai hari akhir sama halnya dengan orang tidak mempercayai agama islam
walaupun orang itu menyatakan ia percaya kepada Allah, Al-quran dan Nabi
Muhammad. Keyakinan pada hari akhir inilah yang mendorong manusia menyesuaikan
diri dengan keranka nilai abadi yang ditetapkan Allah. Keyakinan kepada hari
akhir ini pula lah yang menolong manusia memperkembangkan kepribadiannya secara
sehat dan mantap karena itu pula ajaran islam mementingkan benar keyakinan pada
hari akhirat.
6. Keyakinan
pada qada dan qadar
Yang
dimaksud dengan qada adalah ketentuan mengenai sesuatu atau ketetapan tentang
sesuatu, sedangkan qadar adalah ukuran sesuatu menurut hukum tertentu.
III.
Kesatuan Aqidah
A.
Pentingnya
Kesatuaan Aqidah
Inilah
yang merupakan pengertian pokok dalam keimanan, yakni aqidah dan untuk
menjelaskannya lagi Allah Taala menurunkan kitab-kitab suciNya, mengutuskan
semua Rasulnya dan dijadikan sebagai wasiatNya baik untuk golongan awwalin
(orang-orang dahulu) dan golongan akhirin (orang-orang kemudian).
Aqidah
merupakan kesatuan yang tidak akan berubah-ubah kerana pergantian zaman atau
tempat tidak pula berganti-ganti kerana perbezaan golongan atau masyarakat.
Allah
ta’ala berfirman:
“Allah
telah mensyariatkan agama untukmu semua iaitu yang diwasiatkan kepada Nuh yang
kami wahyukan padamu, juga yang kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa,
hendaklah kamu semua menegakkan agama itu dan jangan berselisih di dalam
melaksanakannya” (Asy-Syura: 13) :
Jelaslah dari ayat di
atas itu bahawa agama yang disyariatkan oleh Allah ta’ala kepada kita itu
adalah sebagaiman yang pernah diwasiatkan kepada Rasul-rasulNya yang
dahulu-dahulu, yakni agama yang merupakan pokok-pokok aqidah dan tiang-tiang
atau rukun-rukun keimanan. Jadi bukannya cabang-cabangnya agama atau
syariat-syariatnya yang berupa amalan. Sebabnya adalah kerana setiap ummat itu
tentu memiliki syariat-syariat amaliah yang sesuai dengan keadaan mereka
sendiri, hal-ehwal serta jalan fikiran serta kerohanian mereka itu pula.
B.
Sebab
Aqidah Itu Satu dan Kekal
Aqidah sebagaimana yang diuraikan dimuka
itu oleh Allah Ta’ala dijadikan umum dan merata untuk seluruh ummat manusia,
kekal sepanjang masa, sebab sudah nyatalah bekas-bekas kemanfaatan dan keperluannya,
baik dalam kehidupan perorangan ataupun perkembangan masyarakat ramai. Dibawah
ini akan dibahas penjelasannya secara rinci.
Pertama
ialah ma’rifat kepada Allah Ta’ala yang akan memancarkan berbagai perasaan yang
baik dan dapat dibina di atasnya semangat untuk menuju kearah perbaikan.
Ma’rifat ini dapat pula memberi didikan kepada hati untuk senantiasa
menyelidiki dan meneliti mana-mana yang salah dan tercela, malahan dapat menumbuhkan
kemauanuntuk mencari keluhuran kemulian dan ketinggian budi dan akhlak dan
sebaliknya juga menyuruh seseorang supaya menghindarkan dirinya dari amal
perbuatan yang hina, rendah dan tidak berharga sedikitpun.
Kedua
ialah ma’rifat kepada malaikatnya Allah Ta’ala. Hal ini dapat mengajak hati
sendiri untuk mencontoh dan meniru perilaku mereka yang serba baik dan terpuji
itu, juga dapat tolong-menolong dengan mereka untuk mencapai yang hak dan
luhur. Selain itu mengajak pula untuk memperoleh penjagaan yang sempurna,
sehingga tidak satupun yang timbul dari manusia itu melainkan yang baik-baik
dan segala tindakannya pun tidak akan ditujukan melainkan untuk maksud yang
mulia belaka.
Ketiga
ialah ma’rifat kepada kitab-kitab suci Allah Ta’la. Ini adalah suatu ma’rifat
yang memberikan arah untuk menempuh jalan yang lurus, bijksana dan diridhai
oleh Tuhan yang tentunya sudah digariskan oleh Allah Ta’ala agar seluruh ummat
manusia itu mentaatinnya. Sebabnya ialah karena hanya dengan melalui jalan
inilah maka seseorang itu dapat sampai kearah kesempurnaan yang hakiki, baik
dalam segi kebendaan (materi) atau segi kerohaniaan dan akhlak (adabi).
Keempat
ialah ma’rifat kepada rasul-rasul Allah Ta’ala. Dengan ma’rifat ini dimaksudkan
agar setiap manusia itu mengikuti jejak langkahnya memperhias diri dengan
meniru akhlak para rasul itu. Selain itu juga bersabar dan tabah hati dalam
mencontoh sepak terjang beliau-beliau itu sebab sudah jelaslah bahwa tindak
langkahnya para rasul itu mencerminkan suatu teladan yang tinggi nilainya dan
yang bermutu baiksekali, bahkan itulah yang merupakan kehidupan yang suci dan
bersih yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala agar dimiliki oleh seluruh ummat
manusia.
Kelima
ialah ma’rifat kepada hari akhir dan ini akan menjadi pembangkit yang terkuat
untuk mengajak manusia itu berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Keenam
ialah ma’rifat kepada takdir dan ini akan memberikan bekal kekuatan dan
kesanggupan kepada seseorang untuk menanggulangi segala macam rintangan, siksaan,
kesengsaraan dan kesukaran. Sementara itu akan dianggap kecil sajalah segala
penghalang dan cobaan, sekalipun bagaimana juga dahsyat dan hebatnya.
Hal-hal sebagimana diatas itu tampak
dengan jelas bahwa akidah itu tujuan utamanya memberikan didikan yang baik
dalam menempuh jalan kehidupan, menyucikan jiwa lalu mengarahkannya kejurusan
yang tertentu untuk mencapai puncak dari sifat-sifat yang tinggi dan luhur dan
lebih utama lagi supaya diusahakan agar sampai tingkatan ma’rifat yang tinggi.
Menempuh jalan yang dilandasi oleh didikan
yang muni dan utama yang dilakukan oleh seseorang dengan melalui penanaman
akidah keagamaan adalah suatu saluran yang terbesar yang paling tepat dalam
memperoleh cita-cita pendidikan terbaik.
Sebabnya demikian itu ialah karena agama
itu nyata-nyata mempunyai suatu kekuasan yang tertinggi dalam hati dan jiwa
juga memberikan kesan yang mendalam pada perasaan, bahkan rasanya tidak ada
kekuasaan atau pengaruh serta kesan yang dapat ditimbulkan oleh hal-hal lain
yang dapat lebih menghasilkan dari pada agama itu sendiri, baik yang sudah
dicoba oleh para cerdik cendekiawan, para ahli kebijaksanaan ataupun para
sarjana pendidikan.
Jadi teranglah bahwa penanaman akidah atau
kepercayaan didalam hati dan jiwa itu adalah setepat-tepatnya jalan yang wajib
dilalui untuk menimbulkan unsur-unsurkebaikan yang dengan bersendikan itu akan
terciptalah kesempurnaan kehidupan, bahkan akan memberikan saham yang paling
banyak untuk membekali jiwa seseorang dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dan
lebih sesuai dengan petunjuk Tuhan.
Bentuk pendidikan yang semacam ini akan
memberikan hiasan kehidupan itu dengan baju keindahan, kerapihan dan
kesempurnaan, juga menaunginya dengan naungan kecintaan dan kesejahteraan.
Manakala kecintaan sudah terpateri dalam
kalbu dan berkuasa untuk menimbulkan tindakan, maka pastilah permusuhan akan
lenyap, pertengkaran akan sirna, persepakatan akan diperoleh sebagai ganti
percekcokan dan persahabatan akan muncul sebagai ganti permusuhan. Dengan
demikian seluruh manusia akan saling dekat-mendekati, persatuan serta ikatan
yang seerat-eratnya. Setiap orang akan berusaha untuk memberikan sumbangan
sebanyak-banyaknya guna kebaikan ummat dan masyarakat. Dan sebaliknya ummat dan
masyarakat itupun berusaha keras untuk memberikan kebahagaiaan kepada setiap
perorangan serta menyumbangkan tenaganya untuk kebaikan siapapun.
Dari segi ini tampaklah betapa besar
hikmatnya, mengapa keimanan itu dijadikan umum dan kekal, tidak berbeda antara
keimanan yang diajarkan oleh Tuhan di xaman dahulu dan di zaman sekarang,
bahkan dimasa dan di tempat manapun. Semua sama dan satu macam.
Tidak suatu generasi atau ummat pun yang
dibiarkan kosong oleh Allah Ta’ala tanpa mengutus rasul-Nya kepada mereka itu
yang diberi tugas untuk mengajak kepada keimanan yang sedemikian ini serta
menancapkan dalam-dalam akarnya akidah itu dalam hati.
Sebagian besar dakwah untuk pembaharuan
akidah itu diberikan oleh Allah Ta’ala setelah rusaknya hati ummat manusia dan
tersesatnya kepercayaan yang mereka miliki, juga runtuhnya semua akhlak dan
perikemanusiaan. Disaat itu pasti nyata sekali kebutuhan manusia kepada suatu
kekuasaan yang ampuh yang dapat mengembalikan mereka kepada fithrah asli mereka
yang benar dan sejahtera. Bimbingan semacam itu mutlak diperlukan oleh ummat,
agar secara langsung dapatlah manusia itu meneruskan perbaikan kemakmuran bumi
dan agar kuat pula untuk membawa amanat kehidupan di alam semesta ini.
Akidah ini merupakan ruh bagi setiap
orang, dengan berpegang teguh padanya itu ia akan hidup dalam keadaan yang baik
dan menggembirakan, tetapi dengan meninggalkannya itu akan matilah semangat
kerohanian manusia. Ia adalah bagaikan cahaya yang apabila seseorang itu buta
dari padanya, maka pastilah ia akan teresat dalam liku-liku kehidupannya,
malahan tidak mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan
yang amat dalam sekali.
Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :
“… Adakah orang yang
sudah mati, kemudian kami (Allah) hidupkan dan kami berikan padanya cahaya yang
terang yang dengannya itu ia dapat berjalan ditengah-tengah manusia, sama
dengan orang yang dalam keadaan gelap gulita yang ia tidak dapat keluar dari
situ?”. (QS. Al-An’am 122).
Memang akidah adalah sumber dari rasa
kasih sayang yang terpuji, ia adalah tempat tertanamnya perasaan-perasaan yang
indah dan luhur, juga sebagai tempat tumbuhnya akhlak yang mulia dan utama.
Sebenarnya tidak suatu keutamaanpu, melainkan ia pasti timbul dari situ dan
tidak suatu kebaikanpun, melainkan pasti bersumber daripadanya.
Al-Quran Alkarim diwaktu
memperbincangkan perihalm kebaikan, maka disebutkanlah bahwa akidah itulah yang
menjadi perintis atau pendorong dari amal-amal perbuatan yang shalih itu. Jadi
akidah diumpamakan sebagai pokok yang dari situlah munculnya beberapa cabang atau
sebagai fundamen yang diatasnyalah bangunan didirikan. Allah SWT berfirman :
![]() |
“.. Bukanlah kebaikan itu jika kamu semua
menghadapkan mukamu kea rah timur atau barat, tetapi yang disebut kebaikan itu
ialah kebaikan seseorang yang beriman kepada Allah, hari akhir (hari kiamat),
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi memberikan harta yang dicintainya itu
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,-
orang yang terlantar dalam perjalanan,
orang minta-minta, orang-orang yang berusaha melepaskan perbudakan, mendirikan
shalat, menunaikan zakat, memenuhi janji apabila berjanji, sabar dalam
kesengsaraan dan kemelaratan dan juga diwaktu peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar dan merekalah orang-orang yang bertaqwa kepada Allah.” (QS.
Al-Baqarah 177).
III.
Jalan
Yang Ditempuh Para Rasul Dalam Menanamnkan Aqidah
Sekalian rasul Tuhan memberitahukan kepada
masing-masing ummatnya akidah sebagaimana yang tersebut dimuka danmereka
menempuh cara yang semuanya itu dapat dikatakan mudah, ringan dan gampang. Juga
semuanya itu mudah dimengerti, difahamkan dan diterima. Beliau-beliau
‘alaihimus salam itu menyuruh ummatnya supaya mengarahkan pandangan mereka ke
kerajaan langit dan bumi, digerakanlah akal fikiran mereka itu supaya suka
mengenang-ngenangkan serta memikir-mikirkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan.
Fithrahnya dibangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman dengan mempunyai
perasaan yang teguh lagi cocok dalam beragama dan selain itu diajaknya pula
merasakan suatu alam lain yang ada dibalik alam semesta yang dapat dilihat ini.
Diatas landasan-landasan sebagaimana
diatas itu pula lah Rasulullah-shalawatullah wa salamuhu’alaih- menanamkan
akidah itu dalam hati dan jiwa ummatnya, ummat Muhammad yang terbesar ini.
Beliau nabi Muhammad s.a.w. dapat mengubah
ummat yang asal mulanya sebagai penyembah berhala dan patung yang dahulunya
melakukan syirik dan kufur menjadi ummat yang berakidah tauhid,mengEsakan Tuhan
sekalian alam. Hati mereka dipompa dengan keimanan dan keyakinan. Sementara itu
beliau nabi Muhammad s.a.w. dapat pula membentuk sahabat-sahabatnya menjadi
pemimpin-pemimpin yang harus diikuti dalam hal perbaikan budi dan akhlak,
bahkan menjadi pembimbing-pembimbing kebaikan dan keutamaan. Bahkan lebih dari
itu lagi, karena beliau nabi Muhammad s.a.w. telah membentuk generasi dari
ummatnya itu sebagai suatu bangsa yang menjadi mulia dengan sebuah adanya
keimanan dalam dada mereka berpegang teguh pada hak dan kebenaran. Maka pada
saat itu ummat yang langsung dibawah pimpinannya adalah bagaikan matahari
dunia, disamping pengajak kesejahteraan dan keselamaatan pada seluruh ummat
manusia.
Allah Ta’ala membuat kesaksian sendiri
pada generasi itu bahwa mereka benar-benar memperoleh ketinggian dan
keistimewaan yang khusus, sebagaimana firmanNya :

“.. Kamu semua adalah sebaik-baik
ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kebaikan mencegah kemunkaran dan
beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran 110).
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Setelah menulis makalah
yang ber-temakan “Pengertian dan Kesatuan Aqidah” ini kami dapat menyimpulkan
bahwa aqidah haruslah benar-benar dipelajari dan dipahami oleh semua muslim
atau dengan kata lain memahami aqidah tersebut dengan Haqqul Yaqin. Aqidah yang benar didasarkan pada keyakinan hati
masing-masing. Aqidah yang sesuai dengan fithrahnya akan menimbulkan
ketentraman dan ketenangan bagi penganutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sabiq,Sayyid.Aqidah
Islam.2006.Bandung:CV Penerbit Diponegoro
Ali,Muhammad
Daud.Pendidikan Agama Islam.1998.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Natta,Abuddin.Studi
Islam Komperhensif.2011.Jakarta:Kencana Prenada Media Group
Nurdi,Muslim.dkk.Moral
dan Kognisi Islam.1995.Bandung:CV Alfabeta
Anwar,Rosihon.Akidah
Akhlak. 2008.Bandung:CV Pustaka Setia
kalo makalah tentang kesatuan sejarah tau ga pembhasannya seperti apa? ini di dalam matkul aqidah
BalasHapuslengkap banget tulisannya referensi juga lengkap
BalasHapus