BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Semakin maju keadaan suatu masyarakat, semakin dirasakan
pentingnya pendidikan terutama pendidikan akhlak secara teratur bagi
pertumbuhan dan pembinaan moral anak sebagai generasi penerus bangsa. Namun,
dalam masyarakat sederhana, seperti mereka yang hidup didaerah terpencilatau
ditempat yang belum mengenal kemajuan, pendidikan formal untuk anak dianggap
kurang begitu penting oleh para orang tua, karena tidak sengaja mereka melatih
anak-anaknya sejak kecil untuk mengikuti jalan mereka. Adat istiadat dan sopan
santun yang berlaku dilingkungan tersebut dipelajari oleh anak mereka secara
alamiah dengan meniru, mencoba dan melatih diri tanpa tuntunan yang pasti.
Kehidupan anak seperti ini tidak
dapat dipertahankan lagi, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah
berkembang . Sehingga kepandaian dan keterampilan tidakk mungkintidak mungkin
hanya diwariskan dari generasi tua kepada generasi muda dari pengalaman hidup
generasi tua saja. Akan tetapi, perlu dilakukan suatu proses kesengajaan yang
teratur dan direncanakan oleh tenaga professional yang mempunyai kemampuan dan
keahlian dibidangnya, tenaga propesional yang dimaksud adalah guru.
Sekolah adalah suatu proses paling
pokok untuk menentukan berhasil tidaknya tujuan
pendidikan tergantung bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa
sebagai anak didik. Peserta didik mempunyai peran yang dominan akan tetapi guru
tetap saja menjadi penentu utama suksesnya suatu pembelajaran.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
Adapun rumusan masalah yang
penulis ajukan adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan akhlak ?
2. Apa yang dimaksud dengan persepsi ?
3. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi !
4. Sebutkan jenis-jenis persepsi !
5. Apa yang dimaksud dengan belajar ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.PENGERTIAN
AKHLAK
Istilah akhlak
sudah sangat akrab di tengah kehidupan kita. Mungkin hampir semua orang
mengetahui arti kata “akhlak” karena perkataan akhlak selalu dikaitkan dengan
tingkah laku manusia. Akan tetapi, agar lebih jelas dan meyakinkan, kata
“akhlak” masih perlu untuk diartikan secara bahasa maupun istilah. Dengan
demikian, pemahaman terhadap kata “akhlak” tidak sebatas kebiasaan praktis yang
setiap hari kita dengar tetapi sekaligus dipahami secara filosofis, terutama
makna substansinya.
Kata “akhlaq”
berasal dari bahasa Arab, yaitu jama’ dari kata”khuluqun” yang secara
linguistik diartikan dengan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat,
tata krama, sopan santun, adab dan tindakan. Kata “akhlak” juga berasal dari
kata “khalaqa”, artinya kejadian, serta erat hubungannya dengan “khaliq”,
artinya menciptakan, tindakan atau perbuatan, sebagaimana terdapat kata
“al-khaliq”, artinya pencipta dan “mukhluq”, artintya yang diciptakan.
Sebenarnya ada
dua pendekatan yanng dapat digunakan untuk mendefinisikan kata “akhlaq” yaitu
pendekatan linguistik (kebahasaan), dan pembahasaan pendekatan terminologik
(perhiasan). Dari satu sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu
isim mashdar (bentuk ifinitif) dari kata “al-akhlaqa-yukhliqu-ikhlaqan”, sesuai
dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala-yuf’ilu-if,alan, berarti
as-sajiyah (perangai), ath-thabia’ah (kelakuan, tabiat, watak dasar), al-adat
(kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik) dan ad-din (agama).
Kata “akhlaq” juga isim masdar dari kata “akhlaqa” yaitu “ikhlaq”. Berkenaan
dengan ini, timbullah pendapat bahwa secara linguistik, akhlak merupakan isim
jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata. Kata
“akhlaq” secara etimologis, berasal dari bahasa Arab yaitu kata “khalaqa”, kata
asalnya adalah “khuiqun” beerarti adat, perangai atau tabiat. Secara
terminologis dapat dikatakan bahwa akhlak merupakan pranata perilaku manusia
dalam segala aspek kehidupan. Dalam pengertian umum , akhlak dapat dipandankan
dengan etika atau nilai moral.
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, ata
akhlak di artikan budi pekerti, watak, atau kelakuan. Sebenarnya kata akhlak
berasal dari bahasa arab khuluq yang
jamaknya akhlaq. Manurut bahasa,
akhlak adalah perangai, tabiat, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi
persesuaian dengan kata khaliq yang
berarti “pencipta” dan, mahluq yang
berarti “yang diciptakan”. Dan menurut istilah akhlaq adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa
melakukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut imam Al-Ghazali
(1015-1111 M) mengatakan bahwa akhlak
sifat yang tentram dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan
mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Ibn Al-Jauzi
menjelaskan (w.597 H) bahwa al-khuluk adalah etika yang dipilih seseorang.
Dinamakan khuluk karena etika
bagaikan khalqah (karakter) pada dirinya. Dengan demikian, khuluk adalah etika yang menjadi pilihan dan di usahakan seseorang.
Adapun etika yang sudah menjadi tabiat bawaannya di namakan al-khaym.
Berkaitan
dengan pengertian khuluq yang berarti
agama. Al-Fairuzzabadi berkata, “ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak.
Barang siapa memiliki akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama
diletakan di atas empat landasan akhlak
utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian, dan keadilan.
Secara sempit,
pengertian akhlak dapat di artikan dengan :
a. Kumpulan
kaidah untuk menempuh jalan yang baik.
b. Jalan
yang sesuai untuk menuju akhlak.
c. Pandangan
akal tentang kebaikan dan keburukan.
Kata akhlak lebih luas artiya daripada moral
ataupun etika yang sering dipakai dalam bahasa indonesia sebab akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dan
tingakah laku lahiriah dan batiiah seseorang. Ada
pula yang meyamakannya karena keduanya membahasa masalah baik dan buruk tingkah
laku manusia.
Perumusan
pengertian akhlaq timbul sebagai
media yang memungkin nya adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluq dan antara mahluk dengan mahluk.
Perkataan ini di petik dari kalimat yang tercantum dalam al-qur’an :

Artinya:
“Dan
sesungguhnya engkau (muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”(Q.S.
Al-Qalam [68]:4)
Demikian
juga, hadis Nabi Muhammad SAW.:
Artinya:
“
Aku di utus untuk menyempurnakan perangai (budi pekerti) yang mulia.”(H.R.
Ahmad).
Adapun
pengertian akhlak menurut ulama akhlak, antara lain sebagai berikut;
1. Ibnu Miskawaih
حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهَا
اِلٰى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَلَا رُوِيَةٍ
Artinya:
“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya
untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
2. Imam Al-Gazali
عِبَارَةٌعَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ
رَاسِخَةٌ عَنْهَا تَصْدُرُ الْافْعَالُ بِسُهُوْلةٍ وَيُسْرِ مِنْ غَيْرِحَاجَةٍ
اِلٰى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ
Artinya:
“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.
3. Ibrahim Anis
حَالٌ لِلنَّفْسِ رَاسِخَةٌ
تَصْدُرُ عَنْهَا الْاَفْعَالُ مِنْ خَيْرٍ اَوْ شَرٍّ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلٰى
فِكْرٍ وَرُؤْيَة
Artinya:
“Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya
lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran
dan pertimbangan”.
4. Prof. Dr. Ahmad Amin
عَرَّ فَ بَعْضُهُمُ الْخُلُقَ
بِأَنَّهُ عَادَةُ الْاِرَادَةِ يَعْنِى أَنَّ الْإرَادَةَ اِذَا اعْتَادَتْ
شَيْأً فَعَادَتُهَا هِيَ الْمُسَمَّاةُ بِالْخُلُقِ
Artinya:
“Sementara orang membuat definisi akhlak, bahwa yang
disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila
membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.
Jadi,
akhlak merupakan sikap yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan di
wujudkan dalam tingkah laku dan
perbuatan atau merupakan kebiasaan yang
di lakukan secara terus menerus sehingga menjadi sebuah karakter akhlak yang
baik ataupun yang buruk.
Jika tindakan
spontan itu baik menurut pandangan akal dan agama, tindakan tersebut di namakan
akhlak yang baik (akhlakul karimah/ akhlakul mahmudah). Sebaliknya, jika
tindakan spontan itu jelek, di sebut akhlakul madzmumah.
Setelah
diketahui makna ilmu akhlak secara linguistik maupun terminologis lalu muncul
pertanyaan, apa sebenarnya pengertian ilmu akhlak, apakah benar ilmu akhlak
telah enjadi ilmu?
Ilmu berasal
dari bahasa arab yang diartikan pengetahuan. Pada dasarnya, pengetahuan
memiliki tiga kriteria ( Juhaya S.Pradja, 1997:6) yaitu:
1. Adanya
suatu sistem gagasan dalam pikiran;
2. Persesuaian
antara gagasan dan benda-benda yang sebenarnya;
3. Adanya
keyakinan tentang persesuaian.
Gagasan dalam
pikiran manusia adalah ide yang terdapat dalam alat pikir yang di sebut dengan akal atau otak. Tidak semua orang dapat menggambarkan bentuk konkret dari
akal. Yang ada hanyalah menggambarka bentuk fisikal otak yang terdapat di dalam
kepala manusia. Sistem gagasan dalam fikiran manusia adalah
cara kerja otak dalam menangkap segala sesuatu, mengembangkan nalar
dalam sebuah ide tentang sesuatu yang dimaksudkan, dan membentuk konsep demi
pembatasan sesuatu yang digagas.
Ilmu adalah
akumulasi pengetahuan yang berasal dari pengamatan pancaindra, dari pengalaman yang sering di sebut dengan pengetahuan empirik. Ilmu juga dapat berawal dari cara berpikir manusia dengan menggunakan
rasio. ilmu seperti ini di sebut dengan pengetahuan
rasional .Berikutnya adalah ilmu yang berawal dari kekuatan merasakan
dengan mata hati atau kekuatan di luar akal dan panca indra, sebagaimana ilmu
yang berasal dari indra keenam, yang dapat berbentuk ilham dan wahyu. Ilmu yang
berasal dari indra keenam, yang dapat berbentuk ilham dan wahyu. Ilmu yang
berasal dari unsur-unsur jiwa dan metafisika atau di luar jangkauan manusia,
tetapi keberadaannya sangat logis. Ilmu seperti ini sering di sebut dengan pengetahuan intuitif karena didasarkan pada kekuatan intuisi.
Dengan
pengertian-pengertian ilmu di atas, sebenarnya apa arti ilmu akhlak? Beberapa
pendekatan untuk memahami akhlak sebagai ilmu telah menjelaskan secara mendalam
bahwa akhlak adalah perilaku, tindakan, daya kreasi, perbuatan yang
menggambarkan baik dan buruk atau benar dan salah, pahala dan dosa, surga dan
neraka, dan sebagainya.
Beberapa
pengertian akhlak merupakan pengertian yang diadopsi dari ilmu jiwa sebagai mana
di kemukakan oleh Hendrojuwono (1994: 1), yang dapat dikemukakan sebagai
berikut.
1.
Bigot, kohnstamm, dan Palland (1954),
mengartikan ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari adanya jiwa dan kehidupan
jiwa. Pengertian akhlak sebagai bentuk tindakan manusia yang merupakan gejala
jiwa, tindakan yang merupakan respons terhadap stimulus yang dihadapi manusia
2.
Garrett (1961), mengatakan bahwa ilmu jiwa
atau psikologi adalah suatu studi sistematik tentang tingkah laku. Lalu, ilmu
akhlak diartikan sebagai ilmu yang mengkaji tingkah laku manusia, baik dan
buruknya menurut ukuran norma-norma yang disepakati, misalnya norma agama,
norma sosial dan budaya, serta norma hukum.
3.
Psikologi atau ilmu tentang jiwa adalah
studi ilmiah tentang kegiatan-kegiatan individu hubungnnya dengan dengan
lingkungan (Woodworth dan Marquis, 1961). Demikian pula, dengan ilmu akhlak
adalah studi tentang perilaku manusia yang berhubungan dengan lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan
tempat pergaulannya dan lingkungan tempat manusia mempertahankan kehidupannya.
4.
Ilmu akhlak dapat diartikan suatu ilmu
tentang tingkahlaku organisme manusia, apabila dipahami dalam perspektif
psikologi (Zimbardo, 1971). Tingkahlaku organisme adalah bentuk-bentuk tindakan
manusia, yaitu sesuatu yang tampak dari perbuatannya dalam bentuk berbagai
kegiatan visual, misalnya manusia yang menggunakan panca indranya untuk suatu
perbuatan yang benar atau salah, menggunakan tangan, kaki, tubuh, dan lainya
kedalam berbagai bentuk aktivitas kehidupan misalnya, dalam berhubungan sesama
manusia diperlukan budi pekerti yang baik, tetapi ukuran baik dan buruk diatur
menurut kebiasaan masyarakat masing-masing atau diatur oleh norma agama.
Dari
definisi-definisi di atas, dapat dikemukakan kategori penting dari ilmu akhlak,
yaitu sebgai berikut :
1. Ilmu
akhlak sebagai ilmu, artinya dalam ilmu akhlak terdapat ciri-ciri penting salah
satu bidang ilmu yang merupakan bagian dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Ilmu
akhlak merupakan akumulasi pengetahuan yang sistematis dan observatif tentang
tingkah laku manusia
2. Manusia
atau binatang, sebaggai objek yang sama dalam ilmu akhlak. Manusia bergerak
dengan prilaku yang dinamis dan berubah-ubah , sedangkan binatang bergerak
mengikuti insting yang sifatnya kebiasaan yang mengikat pada instingnya.
3. Ilmu
akhlak mempelajari tingkah laku manusia sebagai gejala yang tampak dan
dijadikan bahan jadian dalam melihat keadaan kejiwaan manusia yang sesungguhnya
berhubungan erat dengan psikologi.
Pada dasarnya,
perbuatan manusia dimotivasi oleh 3 hal yaitu :
1. Rasa
takut, yaitu perbuatan dilaksanakan karena adanya rasa takut dalam diri
manusia, seperti melaksanakan solat karena takut berdosa dan takut masuk
neraka.
2. Mengharap
keuntungan, suatu tindakan yang didorong oleh akibat pragmatis yang
menguntungkan untuk kehidupannya, misalnya orang melaksanakan solat karena ada
janji Allah SWT jika melakukannya akan masuk surga.
3. Tanpa
pamrih, yaitu motivasi yang berbeda dengan 2 hal di atas, sering disebut
sebagai bentuk perbuatan yang didasarkan pada niat yang ikhlas dan tulus. Tidak
karena atas dasar takut atau karena adanya keuntungan yang dijanjikan. Jadi
perbuatannya merupakan cara berterimakasih kepada yang memberi kebajikan dan
kasih sayang kepada dirinya.
Sebagai
sebuah ilmu, tentu ilmu akhlak merupakan akumulasi dari berbagai pengetahuan
tentang tingkahlaku manusia yang memiliki ciri-ciri berikut :
1. Akhlak
manusia adalah objek penelitian, yang dapat dikaji secara eksperimental dan
merupakan bagian dari disiplin ilmu sosial.
2. Semua
perbuatan manusia dapat diteliti dalam berbagai pendekatan, misalnya pendekatan
psikologis, sosiologis, antropologis, dan filosofis.
3. Ilmu
akhlak dikaji secara sistematis dan logis, sebagai kajiannya dari unsur-unsur
internal dan eksternal yang menjadi latar belakang lahirnya suatu tindakan.
Teori
yang dirumuskan berkaitan dengan akhlak menggambarkan eksistensi ilmu akhlak,
sedangkan konsep-konsep dari rumusan teoritis melahirkan berbagai tema atau
istilah yang baku, misalnya al-akhlaq
al-karimah atau al-akhlaq al-mahmudah dan al-akhlaq al-mazmumah ( akhlak yang
terpuji dan akhlak yang tercela).
2.2.PERSEPSI
2.2.1.PENGERTIAN PERSEPSI
Persepsi (dari bahasa latin perception, percipio) adalah tindakaan
menyusun, mengenali dan menafsirkan informasi sensoris guna memberi gambaran
dan pemahaman tentang lingkungan. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem
saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ
pengindra. Seperti misalnya penglihatan yang merupakan cahaya yang mengenai
retina pada mata, penciuman yang memakai media molekul bau (aroma), dan
pendengaran yang mmelibatkan gelombang suara. Persepsi bukanlah penerimaan
isyarat secara pasif tetapi dibenuk oleh pembelajaran, ingatan, harapan, dan
perhatian. Persepsi bergantung pada sistem saraf, tetapi tampak tidak ada karena
terjadi di luar kesadaraan.
Sejak ditemukannya psiokologi eksperimen
pada abad ke 19, pemahan psikologi terhadap persepsi telah berkembang melalui
penggabungan berbagai teknik. Dalam bidang psikofisika telah dijelaskan secara
kuantitatif hubungan antara sifat-sifatfisika dari suatu rangsangan dan
persepsi. Ilmu saraf sensoris mempelajari tentang mekanisme otak yang mendasari
persepsi. Sistem persepsi juga bisa dipelajari melalui komputasi dari informasi
yang telah diproses oleh sistem tersebut. Persepsi dalam filosofi adalah sejauh
manaunsur-unsur sensori seperti suara, aroma atau warna ada dalam realitas
objektif, bukan dalam pikiran perseptor.
Pengertian
persepsi menurut para ahli yaitu:
a. Jalaludin Rakhmat (1998:51) mengatakan bahwa
persepsi adalah pengalaman tentang objek , peristiwa atau hubungan-hubungan
yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
b. Menurut Ruch (1967:51), persepsi adalah suatu proses
tentang petunjuk-petunjuk indrawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan
diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan
bermakna pada suatu situasi tertentu. Dengan pandanga Ruch tersebut , persepsi
mengandung arti yang sama denmgan sistem berfikir yang membutuhkan
pengalaman-pengalaman dan pengetahuan verbalistik yang dijadikan rujukan
persepsional seseorang.
c. Atkinson dan Hilgrad (1991:201) mengemukakan bahwa
persepsi adalah proses proses menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus
dalam lingkungan.
d. Gibson dan Donely (1994:53) menjelaskan bahwa persepsi
adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seseorang individu.
Dengan
pengertian tersebut dapat ditarik pemahman bahwa terbentuknya akhlak manusia
didorong oleh adanya pemahaman tentang suatu yang akan diperbuatnya. Oleh
karena itu, tingkah laku manusia berlkaitan dengan pola pikir dan pola rasa
manusia. Jiak persepsinya tentang perbuatan yang dilakukan diterima oleh akal
dan hatinya, akhlaknya akan terbentuk dengan jelas sesuai kapasita
pemikirannya.
Dalam
kehidupan profesional, akhlak manusia yang dibentuk oleh persepsinya tentang
objek yang dimaksudkan adalah perbuatan yang sesuai dengan keterampilan atau
kecakapannya. Pengetahuan sanagat penting dalam mendukung akhlaknya sehingga
bentuk-bentuk akhlaknya mengikuti kehendak naluri dan kecerdasannya, tanpa ada
campur tangan pihak luar.
2.2.2.FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
Faktor yang mempengauhi persepsi pada
dasarnya ada dua yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.
1. Faktor
internal yang mempengaruhi
persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup
beberapa hal antara lain :
· Fisiologis.
Informasi masuk
melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi
dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya.
Kapasitas indera untuk mempresepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga
interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
· Perhatian.
Individu memerlukan sejumlah energy yang dikeluarkan
untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental
yang ada pada suatu objek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian
seseorang terhadap objek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap
suatu objek.
· Minat.
Persepsi terhadap suatu objek bervariasi tergantung
pada seberapa banyak energy atau prerceptual vigilance yang digerakan untuk
mempersepsi. Prerceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk
minat.
· Kebutuhan yang searah.
Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya
seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban
sesuai dengan dirinya.
· Pengalaman dan Ingatan.
Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan
dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk
mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
· Suasana hati.
Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood
ini menunjukan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi
bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
2.
Faktor
eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari lingkungan
dan obyek-obyek yang terlibat di dalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat
mengubah sudut pandangan seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi
bagaimana seseorang merasakannya atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor
eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :
· Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus.
Faktor inmi menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan
suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi
persepsi individu dan dengan melihat
bentuk ukuran suatu obyek indivudu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya
membentuk persepsi.
· Warna dari obyek-obyek.
Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan
lebih mudah dipahami ( to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
· Keunikan dan kekontrasan stimulus.
Stimulus luar yang penampilannya dengan latar belakang
dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan
banyak menarik perhatian.
· Intensitas dan kekuatan dari stimulus.
Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih
sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan
dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
· Motion atau gerakan.
Individu akan banyak memberikan perhatian terhadaap
obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang
diam.
2.2.3.JENIS-JENIS
PERSEPSI
Prosep
pemahaman terhadap rangsangan atau stimulus yang diperoleh oleh indera
menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis:
Ø Persepsi visual
Persepsi visual di
dapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal
berkembang pada bayi dan mempengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya.
Persepsi visual merupakan topic utama dari bahasan persepsi secara umum,
sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan pada kontek
sehari-hari. Persepsi kaum muslimin harus mengacu pada al-Qur’an dan AS-sunnah,
ini yang kemudian disebur Islamic Worldview.
Persepsi visual
merupakan hasil dari apa yang kita lihat baik sebelum kita melihat atau masih
membayangkan dan sesudah melakukan pada obyek yang dituju.
Ø
Persepsi
auditori
Persepsi auditori
didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.
Ø
Persepsi
peradabaan
Persepsi
pengerabaabn di dapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
Ø
Persepsi
penciuman
Persepsi penciuman
atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung .
Ø
Persepsi
pengecapan
Persepsi
pengecapan atau rasa di dapatkan dari indera yaitu lidah.
2.3.BELAJAR
2.3.1.PENGERIAN BELAJAR
Belajar
dapat didefinisikan sebagai perubahan yang relatif permanen pada perilaku yang
disebabkan oleh berbagia bentuk pendidikan dan pelatiahn. Belajar juaga
merupakan proses saling menukar dan mengisi pengalaman dan ilmu pengetahuan
secara teratur dan berkesinambuangan.
Dalam belajar
terdapat proses pelatiahan melakukan perbuatan tertentu, dan pemberian ilmu pengetahuan serta
pengalaman-pengalaman yang lebih banyak mengisi kekosongan jiwa yang diajar.
Belajar merupakan kegiatan yang kompleks dan hasil belajar berupa kapabilitas.
Timbulnya kapabilitas disebabkan oleh stimulasi yang berasal dari lingkungan
dan proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Belajar terdiri atas tiga
komponen penting yaitu :
1. Kondisi
eksternal yaitustimulas dari lingkungan dari cara belajar
2. Kondisi
internal yang menggambarkan keadaan internal, proses kognitif siswa
3. Hasil
belajar yang menggambarkan informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan
motorik, sikap dan siasat kognitif.
Belajar sangat
erat dengan pengertian menuntut ilmu, dimana dalam hal ini orang-orang yang
menuntut ilmu itu akan ditinggikan beberapa derajat oleh Allah SWT. Seperti
Firman Allah swt:

“Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman dia antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah 58:11)
Dan Firman-Nya:
Dan katakanlah
: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (Q.S. Thaha 20:114)
Belajar
adalah proses memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan,
motivasi, keiasaan dan tingkah laku yang dilakukan secara
instruksional.(Syaiful Bahri, 2002:22)
Dengan proses
belajar itulah, manusia berakhlak. Jadi akhlak manusia dipengaruhi oleh
pengalaman-pengalaman belajarnya. Kedua orangtuanya ertanggung jawab mengajar
dan mendidik anaknya sejak balita. Lalu, orangtua pula menentukan pilihan
sekolah anaknya, dan demikian seterusnya. Sementara, anak terus menimba ilmu
pengetahuan dan pengalaman, kemudian ia terapkan dalam akhlaknya sehari-hari
Dengan kedua
komponen penting, yaitu persepsi dan belajar manusia mengembangkan
kebudayaannya yang berbentuk tingkah laku dan pola piker. Akan tetapi,
sepanjang proses belajar dan pengembangan pola piker itu berjalan pengaruh
kejiwaannya tidak pernah berhenti. Manusia memiliki nafsu untuk meraih
keinginan dan mimpinya. Oleh sebab itu, setiap akhlak manusia akan berdampak
secara langsung pada kehidupan internal dan eksternalnya.
Akhlak yang berdampak positif pada kehidupannya.
Sealiknya, akhlak akan berdampak buruk pula pada diri dan lingkungannya
contohnya, seorang remaja yang terlibat dengan pemakaian obat-obatan yang
terlarang atau narkoba, ia aakn terkena pengaruh buruk untuk jasmani dan
rohaninya yang tidak dapat dicegah karena otaknya akan hancur, hatinya akan
rusak, tingakah lakunya tidak terkendali dan dia bisa menjadi gila dan mati.
Adapun pengaruh pada lingkungannya sangat merugikan karena nama baik keluarga
dan masyarakat di tempat tinggalnya akan tercoreng oleh akhlaknya yang tercela.
Sebaliknya,
seorang anak yang berprestasi dan bergaul dengan ramah, terpuji dan
mengembangkan nilai-nilai kebajikan di lingkungannya, secara ptomatis ia
akan memperoleh dampak yang baik bagi
kehidupan dirinya, Dalam rohaninya akan tertanam jiwa yang bersih, seluruh
masyarakat mengenalnya sebgai anak yang pantas diteladani. Oleh karena itu
setiap akhlak manusia berdampak secara langsung pada kehidupan pribadinya dan
orang lain.
Beberapa jenis
akhlak yang berdampak baik pada diri dan lingkungan adalah:
1. Melaksanakan ibadah dengan khusyuk
2. Mendirikan Shalat berjamaah
3. Banyak menghadiri pengajian
4. Menuntut ilmu dengan baik dan berprestasi
5. Hidup bergotong Royong
dan saling membantu
6. Berani membela kebebaran
7. Mengajarkan ilmu yang benar kepada orang lain
8. Bergaul dengan sopan santun dan senang bersilaturahmi.
Dalam bahasa al-Qur’an
akhlak-akhlak baik atau terpuji yaitu sifat setia(al-amanah), pemaaf(al-afwu),
benar( ash-shidiq), menepati janji (al-wafa), adil(al-adl), memelihara kesucian
diri( al-ifafah),malu(al-haya’), berani(asy-siyaja’ah), kuat( al-quwwah), sabar(ash-shabru), kasih
saying(ar-rahmah), murah hati (as-sakha’u), tolong menolong(at-ta’awun), damai
(al-ishlah), persaudaraan (al-ikha’), silaturahmi, hemat (al-iqtishathd), menghormati
tamu(adl-dliyafah), merendah diri (at-tawadhu), menundukan diri kepada allah
swt(al-khusyu’), berbuat baik( al-ihsan), berbudi tinggi ( al-muru’ah) ,
memelihara kebersihan badan(an-nadhafah), selalu cenderung pada kebaikan
(ash-shalihah), merasa cukup dengan apa yang ada( al-qana’ah), tenang
(ash-sakinah), lemah lembut(ar-rifqu) dan sebagainya.
Jenis-jenis akhlak yang buruk
dan berdampak buruk bagi diri dan lingkungannya adalah:
1. Banyak berdusta
2. Berkhianat
3. Selalu berburuk sangka kepada orang lain
4. Tidak mau beribadah
5. Menghina dan mengrendahkan orang lain
6. Tidak mau bersosialisasi
7. Menutup diri dan sombong
8. Menjadi penghasut dann pengadu domba
9. Mengembangkan permusuhan
10. Egois dan individualis
11. Senamg melihat orang lain susah dan susah melihat
orang lain senang
12. Mudah tersinggung dan pendendam
13. Tidak toleran kepada keyakinan orang lain
14. Berlaku tidak adil dalam memutuskan perkara.
Dalam bahasa al-Qur’an
akhlak-akhlak buruk atau tercela adalah egoistis (ananiyah), lacur (al-baghyu),
kikir (al-bukhlu), dusta (al-buhtan), pemabuk(al-khamru), Khianat (al-khianah),
aniaya ( adh-dhulmu), pengecut (al-jubn), perbuatan dosa besar (al-fawahisy),
pemarah (al-ghadhab), curang dan culas (al-ghasysyu), mengumpat (al-ghibah),
adu domba ( an-namimah), menipu daya ( al-ghrur), dengki (al-hasad) dendam (al-hiqdu),
berbuat kerusakan (al-ifsad), sombong( al-istikbar), mengingkari nikmat
(al-kufran), homo seksual ( al-liwath), membunuh ( qatlunnafsi), makan riba (ar-riba),
ingin dipuji ( ar-riya), ingin didengar kelebihannya ( assum’ah), berolok-olok
(assikhiriyah), mencururi (asirqah), mengikuti hawa nafsu (asysyahawat), boros
(attabzir), tergesa-gesa (al-ajalah), fasik, munafik dan sebagainya.
Sesungguhnya masih banyak
jenis akhlak baik maupun buruk yang berdampak positif maupun negative pada
kehidupan sosial. Contoh-contoh tersebut hanyalah gambaran bahwa tidak penting
mengembangakan akhlak yang tercela karena kan merugikan diri dan orang lain.
Rasulullah SAW pernah menyatakan, “Orang muslim yang baik adalah orang muslim
yang selamat dari lidah dan tangannya”. Artinya, pergaulan manusia seharusnya
dapat menjaga perkataanya sehingga tidak menyakiti orang lain karena sakit hati
dapat mengakibatkan dendam dan pembunuhan. Dermikian pula, menjaga tangan,
kekuatan dan kekuasaannya karena menyalahgunakan kekuasaan akan mengakibatkan
kesengsaraan bagi orang lain. Oleh karena itu, Rasulullah SAW. berperan kepada
umat Islam agar bersatu-padu, saling bersilaturahmi dan tolong menolong dalam
kebajikan dan kebenaran.
Membahas
mengenai ilmu tentu juga akan membahas mengenai pendidikan, karena ilmu yang
kita dapat bersumber dari pendidikan. Pendidikan membantu seseorang untuk
memperoleh ilmu secara sistematis dan terarah. Pendidikan adalah wahana yang
dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses
pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Dalam UU no. 20 tahun 2003
Pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal,
pendidikan non-formal dan pendidikan informal.
1. Pendidikan
formal
Pendidika
formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada
umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang dijelas, mulai
dari pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi.
2. Pendidikan
Non-formal
Pendidikan
non-formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan non-formal paling
banyak terdapat pada usia usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA atau Taman
Pendidikan Al-Qur’an, yang banyak terdapat di Masjid dan Sekolah Minggu, yang
terdapat di semua Gereja. Selain itu, ada juga kursus, diantaranya kursus
music, bimbingan belajar dan sebainya.
Pendidikan
non-formal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan
pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap
pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Fungsi
pendidikan non-formal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan
penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta
pengembanagan sikap dan kepbribadian professional. Pendidikan non-formal
meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan
kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keterampilan dan
pelatihan kerja.
3. Pendidikan
Informal
Pendidikan
informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan
secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab. Hasil
pendidikan informal diakui sama dengan dengan pendidikan formal dan pendidikan
non-formal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar Nasional
Pendidikan.
Alasan
pemerintah menggagas pendidikan informal adalah :
· Pendidikan dimualai dari keluarga.
· Informal diundangkan juga karena untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional dimulai dari keluarga.
· Homeschooling adalah pendidikan formal tapi
dilaksanakan secara informal.
· Anak harus dididik dari lahir.
2.3.2.FAKTOR-FAKTOR BELAJAR
Prinsip-prinsip
belajar yang hanyamemberikan petunjuk tentang belajar. Tetapi prinsip-prinsip
belajar itutidak dapat dijadikan hukum belajar yang bersifat mutlak, kalau
tujuan belajar berbeda maka dengan sendirinya cara belajar juga harus berbeda,
contoh: belajar untuk memperoleh sifat berbeda dengan belajar untuk
mengembangkan kebiasaan dan sebagainya.
Karena itu, belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor
kondisional yang ada.
Faktor-faktor
itu adalah sebagai berikut.
1) Faktor kegiatan,penggunaan dan ulangan, siswa
yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat, mendengar, merasakan, berpikir,
kegiatan motoris, dan sebagainya maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang
diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang
telah dipelajari perlu digunakan secara
praktis dan diadakan ulangan secara kontinu dibawah kondisi yang serasi,
sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih mantap.
2) Belajar
memerlukan latihan,dangan jalan: relearning, recalling agar pelajaran yang
terlupakan dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belun dikuasai akan dapat
lebih mudah dipahami.
3) Belajar
siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil
dan mendapatkan kepuasaannya . Belajar hendaknya dilakukan dengan suasana yang
menyenangkan.
4) Siswa
yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya
Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan mendorong belajar lebih baik,
sedangkan kegagalan akan menimbukan prustasi.
5) Faktor
Asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara
yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi
satu kesatuan pengalaman.
6) Pengalaman
masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki
oleh siswa, besar peranannya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian
itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan
pengertian-pengertian baru.
7) Faktor
kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan
belajar lebih mudah dan lebih berhasil.Faktor kesiapan ini sangat erat
hubungannya dangan masalah kematangan, minat, kebutuhan, dan tugas-tugas
perkembangan.
8) Faktor
minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik
dari pada belajar tanpa minat. Minat ini timbul apabila murid tertarik akan
sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan
dipelajari dirasakan bermakna bagi
dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga
sulit untuk berhasil.
9) Faktor-faktor
fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses
belajar, Badan yang lemah, lelah juga akan menyebabkan perhatian tak mungkin
akan melakukan kegiatan belajhar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis
sangat menentukan berhasil atau tidaknya murid yang belajar.
10) Faktor
intelegensi, Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar.
Karena ia akan lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran dan akan lebih mudah
mengingat-ingatnya. Anak yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan
lebih cepat mengambil keputusan. Hal ini
berbeda dengan siswa yang kurang cerdas, para siswa yang lamban.
2.3.3.HAKEKAT BELAJAR
Belajar itu
melibat perubahan. Perubahan yang terjadi ketika belajar berlangsung mempunyai
sebuah aspek arahan (directional aspec). Kadang-kadang menimbulkan suatu
perubahan dalam arah cita-cita kehidupan, dan kadang-kaang justru memperkuat
arah cita-cita warga tersebut.
Apabila
perubahan itu berubah sama sekali cara berpikir kita, maka hal ini akan
melibatkan perubahan dalam tujuan dan arah kehidupan kita. Apa yang kita
lakukan sebelumnya kini ditinggalkan sama sekalli.
Apabila
pengalaman belajar terus membimbing kita dalam arah yang sama yang kita tempuh
selama ini, maka pengalaman-pengalaman belajar memberikan pengalaman-pengalaman
baru pada kita dan membantu kita melihat cara yang kita tempuh itu lebih jelas
lagi. Proses ini membantu untuk maju lebh cepat dan lebih jelas kea rah tujuan
kita.
Belajar berlangsung
bila perubahan-perubahan berikut ini terjadi :
1. Penambahan informasi
2. Pengembangan atau peningkatan pengertian
3. Penerimaan sikap-sikap baru
4. Perolehan penghargaan baru
5.
Pengerjaan
sesuatu dengan mempergunakan apa yang telah dipelajari
Kelima jenis
perubahan ini dapat dimasukkan dalam tiga kategori :
Pengetahuan
(kognitif), perasaan (afektive) dan perbuatan (behavioral). Hal ini melibatkan
:
1.
Pengetahuan
(kognitif)
Apa yang saya tambahkan kepada apa yang telah
diketahui mungkin saja kurang pengaruhnya pada diri saya sebagia individu. Mungkin
juga menimbulkan pengaruh yang memuaskan dengan makin bertambahnya informasi. Bagaimanapun
juga bertambah banyaknya informasi itu adalah penting, tetapi kepuasan dan
kegembiraan hanyalah merupakan awal proses belajar
2.
Perasaan
(efektive)
Bagimana perasaan saya tentang apa yang saya dengar
dan baca itu adalah jauh lebih penting dari pada hanya menerima informasi
belaka. Reaksi emosional kita terhadap fakta informasi, dan gagasan adalah
penting bagi belajar. Bagaiman perasaan kita tentang informasi atau
gagasan-gagasan baru akan menentukan apakah kita akn mempelajari atau tidak.
3.
Perilaku
(behavioural)
Apa yang saya perbuat akibat dari apa yang saya dengar
dan say abaca adalah aspek belajar yang sangat penting. Keterbukaan dan
penerimaan gagasan-gagasan baru itu harus berakibat berupa perbuatan nyata.
Saya mesti menjadi orang yang berbeda dengan memahami apa yang saya dengar dan
baca itu serta memperagakannya dalam perbuatan. Hal ini adalah hasil akhir dari
belajar.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1.KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat
ditarik dari makalah ini yaitu
·
Akhlak
adalah akhlak
merupakan sikap yang melekat pada diri seseorang dan secara spontan di wujudkan
dalam tingkah laku dan perbuatan atau merupakan kebiasaan yang di lakukan
secara terus menerus sehingga menjadi sebuah karakter akhlak yang baik ataupun
yang buruk.
·
Persepsi
adalah proses proses menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam
lingkungan.
·
Faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor Internal
meliputi Fisiologis; Perhatian; Minat; Kebutuhan yang Searah; Pengalaman dan
Ingatan; Suasana Hati. Fktor Eksternal meliputi Ukuran dan Penempatan dari
Obyek atau Stimulus; Warna dari Obyek-obyek; Keunikan dan Kekontrasan Stimulus;
Intensitas dan Kekuatan dari Stimulus; Motion atau Gerakan.
·
Jenis-jenis
persepsi meliputi persepsi visual, persepsi auditori, persepsi peradabaan,
persepsi penciuman, dan persepsi pengecapan.
·
Belajar
adalah perubahan
yang relatif permanen pada perilaku yang disebabkan oleh berbagia bentuk
pendidikan dan pelatiahn. Belajar juaga merupakan proses saling menukar dan
mengisi pengalaman dan ilmu pengetahuan secara teratur dan berkesinambuangan.
·
Faktor-faktor
belajar yaitu :
1. Faktor
kegiatan,penggunaan dan ulangan
2. Belajar
memerlukan latihan,dangan jalan: relearning, recalling
3. Belajar
siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil
dan mendapatkan kepuasaannya
4. Siswa
yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya
5. Faktor
Asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara
yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi
satu kesatuan pengalaman.
6. Pengalaman
masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki
oleh siswa, besar peranannya dalam proses belajar.
7. Faktor
kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan
belajar lebih mudah dan lebih berhasil.
8. Faktor
minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik
dari pada belajar tanpa minat.
9. Faktor-faktor
fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses
belajar.
10. Faktor
intelegensi, Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar.
·
Hakekat
belajar yaitu pengetahuan (kognitif), perasaan (afektive) dan
perbuatan (behavioral).
3.2.SARAN
Dalam
menjalani kehidupan alangkah baiknya kita memperkaya ilmu dengan belajar agar
kehidupan kita lebih terarah dan dapat menjalankan kehidupan sesuai syariat
Islam. Selain itu kita harus menghargai setiap persepsi orang lain karena
setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap suatu obyek. Jadi
kita mengambil hikmahnya saja dari perbedaan ini agar terjalin kerukunan dalam
hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihin.2008.Akidah Akhlak. Bandung: CV Pustaka
Setia.
Sebani, Beni
Ahmad dan Abdul Hamid. 2010. Ilmu Akhlak.
Bandunng: CV Pustaka Setia.
Suarjadi, A. Membuat Siswa Aktif Belajar.1989. Bandung:
Mandar Maju.
didikan
–formal-imformal-dan-nonformal. {Minggu, 02 November 2015}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar