BAB 1
1.1
Pengertian Agama Islam
Agama
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan
kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan
pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Agama berasal dari bahasa sansekerta, akar kata agama adalah “gam” yang mendapat awalan “a” dan akhiran “a” sehingga menjadi “a-gam-a”.
Agama artinya peraturan, tata cara,
upacara hubungan manusia dengan Tuhan.
Secara etimologi islam berasal dari bahasa Arab, terambil
dari kosakata “salima” yang berarti
selamat sentosa. Kemudian dibentuk menjadi kata “aslama” yang berarti memelihara dalam keadaan selamat sentosa, yang
berarti berserah diri, patuh, tunduk dan taat. Dari kata aslama dibentuk kata
islam (aslam yuslimu islaman), yang
mengandung arti selamat, aman, damai, patuh, berserah diri, dan taat. Orang
yang masuk islam di namakan muslim, yaitu orang yang menyatakan dirinya telah
taat, meyerahkan diri, dan patuh kepada Allah.
Ø Menurut Maulana Muhammad Ali
:
“islam adalah agama yang sebenarnya bagi seluruh umat
manusia. Para nabi adalah yang mengajarkan agama islam dikalangan berbagai
bangsa dan berbagai zaman, dan nabi Muhammad SAW adalah nabi agama itu yang
terakhir dan paling sempurna.”
Ø Menurut Harun Nasution :
“islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan
kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam pada
hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi
mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.”
Jadi
kesimpulan mengenai Agama Islam adalah suatu ajaran tata cara yang diturunkan
Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW yang disiarkan dengan dakwah ke seluruh
penjuru dunia, memberikan pertanda bahwa Islam diperuntukan bagi semua manusia
yang ada dimuka bumi ini.
Di
dalam Agama Islam ada tiga aspek atau tiga bagian terpenting yang terkait
antara satu sama lainnya. Baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Secara tersurat maupun yang tersirat. Secara sadar maupun tidak sadar.
Diantaranya adalah :
1.
Aqidah
2.
Syariat
3.
Akhlak
Siapa saja yang ingin beragama Islam atau
siapa saja yang ingin melaksanakan ajaran Islam di dalam kehidupan, wajib
mempelajari ketiga aspek atau bagian yang ada di dalam ajaran Islam ini. Wajib
dipelajari ilmunya, diyakini, dihayati, dan juga diamalkan.
1.2
Pengertian Aqidah
Aqidah berasal dari kata “aqada – ya’qidu – aqdan” yang berarti
“mengikatkan atau mempercayai/meyakini” jadi “aqidah” berarti ikatan,
kepercayaan atau keyakinan. Sedangkan pengertian aqidah dalam agama maksudnya
adalah berkaitan dengan keyakinan, bukan perbuatan. Misalnya keyakinan adanya
Allah dan diutusnya nabi Muhammad SAW sebagai rasul.
Aqidah di berikan oleh allah setelah
rusaknya hati umat manusia dan tersesatnya kepercayaan yang mereka miliki juga
runtuhnya semua akhlaq dan peri kemanusian. Di saat itu pasti nyata sekali
kebutuhan manusia kepada suatu kekuasaan yang ampuh yang dapat mengembalikan
meeka kepada fitrah asli mereka yang bener dan sejahtera. Bimbingan semacam itu
mutlak di perluka oleh umat, agar secara langsung dapat lah manusia itu
meneruskan perbaikan kemakmuran bumi dan agar kuat pula untuk membawa amanat
kehidupan di alam semesta ini
Aqidah ini merupakan ruh bagi setiap orang
dengan berpegang teguh kepadanya itu ia akan hidup dalam keadaaan yang baik dan
memgembirakan,tetapi dengan meinggalkannya itu akan matilah semangat kerohanian
manusia ia adalah bagaikan cahaya yang apabila seseorang itu buta dari padanya,
maka pastilah ia akan terseset dalam liku-liku kehidupannya, malahan tidak
mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan yang amat dalam
sekali.
Selain itu ada juga pengertian aqidah menurut para ahli yakni
sebagai berikut :
1. Menurut Hassan Al-Banna
“Aqidah adalah beberapa
perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh hatimu, mendatangkan ketentraman
jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan”.
2. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy
“Aqidah adalah sejumlah
kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu
dan fithrah. (Kebenaran) itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta
diyakini kesahihan dan kebenarannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu
yang bertentangan dengan kebenaran itu”.
1.3 Fungsi dan Peranan Aqidah
Dalam hubungan dengan Tuhan, aqidah
memberi kejelasan tentang tuhan yang disembahnya sebagai dzat Yang Maha Kuasa;
satu-satunya Dzat yang wajib disembah yang di Tangan-Nya nasib seluruh mahkluk
ditentukan.
Dalam hubungan dengan manusia. Keyakinan
tauhid ini menjadi dorongan utama untuk bergaul dan berbuat baik serta berbuat maslahat bagi manusia dan mahkluk
lainnya. Dorongan keyakinan ini akan sanggup meniadakan segala pamrih duniawi
dan balas jasa dari baikan yang ditanankan terhadap manusia lain.
Aqidah dapat dilihat peranannya dalam
berbagai segi kehidupan seorang muslim serta memiliki implikasi terhadap sikap
hidupnya. Implikasi dari aqidah itu antara lain dapat dilihat dalam pembentukan
sikap, misalnya :
1. Penyerahan secara total kepada Allah dengan meniadakan sama
sekali kekuatan dan kekuasaan diluar Allah yang dapat mendominasi dirinya.
2. Keyakinan terhadap Allah, menjadikan orang memiliki keberanian
untuk berbuat, karena tidak ada baginya yang ditakuti selain melanggar perintah
Allah. Keberanian ini menjadikan seorang muslim untuk berbicara tentang
kebenaran secara lurus dan konsekuan dan tegas berdasarkan aturan aturan yang
jelas diperintah Allah.
3. Keyakinan dapat membentuk rasa optimis menjalani kehidupan,
karena keyakinan tauhid menjadikan hasil yang terbaik yang akan dicapainnya
secara ruhaniah, karena itu seorang muslim tidak pernah gelisah dan putus asa,
ia tetap berkiprah dengan penuh semangat dan optimisme.
Dengan demikian aqidah
dapat berperan sebagai landasan etik bagi seorang muslim dalam kehidupannya
didunia dengan melihat hidup secara luas, yaitu hidup di dunia dan akhirat.
1.4 Tingkatan Aqidah
Ditinjau dari segi kuat
dan tidaknya, aqidah ini bisa dibagi menjadi empat tingkatkan, yaitu :
Tingkat ragu (Taklif),
yakni orang yang beraqidah hanya karena ikut ikutan saja, tidak mempunyai
pendirian sendiri.
1.
Tingkat yakin, yakni orang yang
beraqidah atau sesuatu dan mampu menunjukan bukti, alasan, atau dalilnya, tapi
belum mampu menemukan dengan data atau bukti (dalil) yang didapatnya. Sehingga
tingkat ini masih mungkin terkecoh dengan sanggahan sanggahan yang bersifat
rasional dan mendalam.
2.
Tingkat a’inul yakin, orang yang beraqidah atau meyakini sesuatu secara
rasional, ilmiah dan mendalam ia mampu membuktikan hubungan antara objek (madlul) dengan data atau bukti (dalil).
Tingkat ini tidak akan terkecoh lagi dengan sanggahan sanggahn yang bersifat
rasional dan ilmiah.
3.
Tingkat haqqul yakin, yakni
orang beraqidah atau meyakini sesuatu yang disamping mampu membuktikan hubungan
antara objek (madlul) dengan bukti
atau fakta (dalil) secara rasional, ilmiah dan mendalam, juga mampu menemukan
dan merasakannya melalui pengalaman-pengalamannya dalam pengamalan ajaran
agama.
1.5 Ruang Lingkup Aqidah
Secara sederhana sistematika agama islam
dapat dijelaskan sebagai berikut kalau orang telah menerima tauhid sebagai prima causa yakni asal yang pertama,
asal dari segala-galanya dalam keyakinan islam, maka rukun iman yang lain
hanyalah akibat logis (masuk akal) saja penerimaan tauhid tersebut. Dari uraian
singkat tersebut kita harus mengerti apa saja sistematisnya pokok-pokok
keyakinan islam yang terangkum dalam rukun iman.
1.
Keyakinan kepada Allah
Allah, Zat yang maha mutlak itu, menurut ajaran islam, adalah Tuhan
Yang Maha Esa. Menurut aqidah islam, konsepsi tetang Ketuhanan Yang Maha Esa
disebut Tauhid
2.
Keyakinan kepada para Malaikat
Malaikat adalah mahkluk Gaib, tidak dapat ditangkap oleh pancaindra
manusia akan tetapi, dengan izin Allah, malaikat dapat menjelmakan dirinya
seperti manusia, Para malaikat mempunyai tugas tertentu seperti menyampaikan
wahyu Allah kepada manusia melalui para rasulnya, mengukuhkan hati orang-orang
yang beriman memberikan pertolongan kepada manusia, membantu perkembangan
rohani manusia, mendorong manusia untuk berbuat baik, mencatat perbuatan
manusia, dan melaksanakan hukuman Allah.
3.
Keyakinan kepada kitab-kitab
suci
Kitab-kitab suci memuat wahyu Allah. Perkataan kitab yang berasal
dari kata kerja Kataba artinya ia telah menulis. Memuat wahyu Allah. Perkataan
wahyu berasal dari bahasa Arab al-wahy. Kata ini mengandung makna
suara,bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Dalam pengertian yang umum wahyu
adalah firman Allah yang disampaikan malaikat Jibril kepada para Rasul-Nya.
Al-quran menyebut beberapa kitab suci misalnya Zabur yang diturunkan melalui
nabi Daud, Taurat melalui nabi Musa, Injil melalui Nabi Isa dan Al-quran
melalui nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya.
4.
Keyakinan pada para nabi dan
rasul
Para nabi menerima tuntan berupa wahyu, akan tetapi tidak mempunyai
kewajiban menyampaikan wahyu itu kepada umat manusia. Rosul adalah utusan Tuhan
yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada umat manusia.
5.
Keyakinan pada hari kiamat dan
pertanggung jawaban manusia di akhirat.
Keyakinan ini sangat penting dalam rangkaian satuan rukun iman
lainnya, sebab tanpa mempercayai hari akhir sama halnya dengan orang tidak
mempercayai agama islam walaupun orang itu menyatakan ia percaya kepada Allah,
al quran dan Nabi Muhammad. Keyakinan pada hari akhir inilah yang mendorong
manusia menyesuaikan diri dengan keranka nilai abadi yang ditetapkan Allah.
Keyakinan kepada hari akhir ini pula lah yang menolong manusia memperkembangkan
kepribadiannya secara sehat dan mantap karena itu pula ajaran islam
mementingkan benar keyakinan pada hari akhirat.
6. Keyakinan pada qada
dan qadar
Yang dimaksud dengan qada adalah ketentuan mengenai sesuatu atau
ketetapan tentang sesuatu, sedangkan qadar adalah ukuran sesuatu menurut hukum
tertentu.
1.6 Kesatuan Aqidah
Aqidah merupakan kesatuan yang tidak akan
berubah-ubah kerana pergantian zaman atau tempat tidak pula berganti-ganti
kerana perbezaan golongan atau masyarakat.
Allah ta’ala berfirman:
“Allah telah mensyariatkan
agama untukmu semua iaitu yang diwasiatkan kepada Nuh yang kami wahyukan
padamu, juga yang kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, hendaklah kamu
semua menegakkan agama itu dan jangan berselisih di dalam melaksanakannya” (Asy-Syura: 13) :
Jelaslah dari ayat di atas itu bahwa agama
yang disyariatkan oleh Allah ta’ala kepada kita itu adalah sebagaiman yang
pernah diwasiatkan kepada Rasul-rasulNya yang dahulu-dahulu, yakni agama yang
merupakan pokok-pokok aqidah dan tiang-tiang atau rukun-rukun keimanan. Jadi
bukannya cabang-cabangnya agama atau syariat-syariatnya yang berupa amalan.
Sebabnya adalah kerana setiap ummat itu tentu memiliki syariat-syariat amaliah
yang sesuai dengan keadaan mereka sendiri, hal-ehwal serta jalan fikiran serta
kerohanian mereka itu pula.
1.7 Sebab Aqidah Itu Satu
dan Kekal
Pertama, ialah ma’rifat kepada Allah Ta’ala yang akan memancarkan berbagai
perasaan yang baik dan dapat dibina di atasnya semangat untuk menuju kearah
perbaikan. Ma’rifat ini dapat pula memberi didikan kepada hati untuk senantiasa
menyelidiki dan meneliti mana-mana yang salah dan tercela, malahan dapat
menumbuhkan kemauanuntuk mencari keluhuran kemulian dan ketinggian budi dan
akhlak dan sebaliknya juga menyuruh seseorang supaya menghindarkan dirinya dari
amal perbuatan yang hina, rendah dan tidak berharga sedikitpun.
Kedua, ialah ma’rifat kepada malaikatnya Allah Ta’ala. Hal ini dapat
mengajak hati sendiri untuk mencontoh dan meniru perilaku mereka yang serba
baik dan terpuji itu, juga dapat tolong-menolong dengan mereka untuk mencapai
yang hak dan luhur. Selain itu mengajak pula untuk memperoleh penjagaan yang
sempurna, sehingga tidak satupun yang timbul dari manusia itu melainkan yang
baik-baik dan segala tindakannya pun tidak akan ditujukan melainkan untuk
maksud yang mulia belaka.
Ketiga, ialah ma’rifat kepada kitab-kitab suci Allah Ta’la. Ini adalah
suatu ma’rifat yang memberikan arah untuk menempuh jalan yang lurus, bijksana
dan diridhai oleh Tuhan yang tentunya sudah digariskan oleh Allah Ta’ala agar
seluruh ummat manusia itu mentaatinnya. Sebabnya ialah karena hanya dengan
melalui jalan inilah maka seseorang itu dapat sampai kearah kesempurnaan yang
hakiki, baik dalam segi kebendaan (materi) atau segi kerohaniaan dan akhlak
(adabi).
Keempat, ialah ma’rifat kepada rasul-rasul Allah Ta’ala. Dengan ma’rifat ini
dimaksudkan agar setiap manusia itu mengikuti jejak langkahnya memperhias diri
dengan meniru akhlak para rasul itu. Selain itu juga bersabar dan tabah hati
dalam mencontoh sepak terjang beliau-beliau itu sebab sudah jelaslah bahwa
tindak langkahnya para rasul itu mencerminkan suatu teladan yang tinggi
nilainya dan yang bermutu baiksekali, bahkan itulah yang merupakan kehidupan
yang suci dan bersih yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala agar dimiliki oleh
seluruh ummat manusia.
Kelima, ialah ma’rifat kepada hari akhir dan ini akan menjadi pembangkit
yang terkuat untuk mengajak manusia itu berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Keenam, ialah ma’rifat kepada takdir dan ini akan memberikan bekal kekuatan
dan kesanggupan kepada seseorang untuk menanggulangi segala macam rintangan,
siksaan, kesengsaraan dan kesukaran. Sementara itu akan dianggap kecil sajalah
segala penghalang dan cobaan, sekalipun bagaimana juga dahsyat dan hebatnya.
Akidah ini merupakan ruh bagi setiap
orang, dengan berpegang teguh padanya itu ia akan hidup dalam keadaan yang baik
dan menggembirakan, tetapi dengan meninggalkannya itu akan matilah semangat
kerohanian manusia. Ia adalah bagaikan cahaya yang apabila seseorang itu buta
dari padanya, maka pastilah ia akan teresat dalam liku-liku kehidupannya,
malahan tidak mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan
yang amat dalam sekali.
Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman :
“… Adakah orang yang sudah
mati, kemudian kami (Allah) hidupkan dan kami berikan padanya cahaya yang
terang yang dengannya itu ia dapat berjalan ditengah-tengah manusia, sama
dengan orang yang dalam keadaan gelap gulita yang ia tidak dapat keluar dari
situ?”. (QS. Al-An’am 122).
Memang akidah adalah sumber dari rasa
kasih sayang yang terpuji, ia adalah tempat tertanamnya perasaan-perasaan yang
indah dan luhur, juga sebagai tempat tumbuhnya akhlak yang mulia dan utama.
Sebenarnya tidak suatu keutamaanpu, melainkan ia pasti timbul dari situ dan
tidak suatu kebaikanpun, melainkan pasti bersumber daripadanya.
Al quran
diwaktu memperbincangkan perihalm kebaikan, maka disebutkanlah bahwa
akidah itulah yang menjadi perintis atau pendorong dari amal-amal perbuatan
yang shalih itu. Jadi akidah diumpamakan sebagai pokok yang dari situlah
munculnya beberapa cabang atau sebagai fundamen yang diatasnyalah bangunan
didirikan.
Allah SWT berfirman :
![]() |
“.. Bukanlah kebaikan itu jika kamu semua menghadapkan
mukamu kea rah timur atau barat, tetapi yang disebut kebaikan itu ialah
kebaikan seseorang yang beriman kepada Allah, hari akhir (hari kiamat),
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi memberikan harta yang dicintainya itu
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin”
“Orang yang terlantar dalam perjalanan, orang minta-minta,
orang-orang yang berusaha melepaskan perbudakan, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, memenuhi janji apabila berjanji, sabar dalam kesengsaraan dan kemelaratan
dan juga diwaktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan merekalah
orang-orang yang bertaqwa kepada Allah.” (QS. Al Baqarah 177).
1.8 Jalan Yang Ditempuh Para
Rasul Dalam Menanamnkan Aqidah
Sekalian
rasul Tuhan memberitahukan kepada masing-masing ummatnya akidah sebagaimana
yang tersebut dimuka danmereka menempuh cara yang semuanya itu dapat dikatakan
mudah, ringan dan gampang. Juga semuanya itu mudah dimengerti, difahamkan dan
diterima. Beliau ‘alaihimus salam itu menyuruh ummatnya supaya mengarahkan
pandangan mereka ke kerajaan langit dan bumi, digerakanlah akal fikiran mereka
itu supaya suka mengenang-ngenangkan serta memikir-mikirkan tanda-tanda
kekuasaan Tuhan. Fithrahnya dibangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman
dengan mempunyai perasaan yang teguh lagi cocok dalam beragama dan selain itu
diajaknya pula merasakan suatu alam lain yang ada dibalik alam semesta yang
dapat dilihat ini.
Diatas
landasan-landasan sebagaimana diatas itu pula lah Rasulullah menanamkan akidah
itu dalam hati dan jiwa ummatnya, ummat Muhammad yang terbesar ini. Beliau Nabi
Muhammad SAW. dapat mengubah ummat yang asal mulanya sebagai penyembah berhala
dan patung yang dahulunya melakukan syirik dan kufur menjadi ummat yang
berakidah tauhid, meng-Esakan Tuhan sekalian alam. Hati mereka dipompa dengan
keimanan dan keyakinan. Sementara itu beliau Nabi Muhammad SAW. dapat pula
membentuk sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin-pemimpin yang harus diikuti dalam
hal perbaikan budi dan akhlak, bahkan menjadi pembimbing-pembimbing kebaikan
dan keutamaan. Bahkan lebih dari itu lagi, karena beliau nabi Muhammad SAW.
telah membentuk generasi dari ummatnya itu sebagai suatu bangsa yang menjadi
mulia dengan sebuah adanya keimanan dalam dada mereka berpegang teguh pada hak
dan kebenaran. Maka pada saat itu ummat yang langsung dibawah pimpinannya
adalah bagaikan matahari dunia, disamping pengajak kesejahteraan dan
keselamaatan pada seluruh ummat manusia.
Allah
Ta’ala membuat kesaksian sendiri pada generasi itu bahwa mereka benar-benar
memperoleh ketinggian dan keistimewaan yang khusus, sebagaimana firmanNya :
“.. Kamu semua adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kebaikan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran 110).
lengkap banget penjelasannya
BalasHapus